Senin, 08 Desember 2008

"Ideologi" Perantau


Suasana tenang, penuh keharmonisan, bergerak lambat dan perlahan, diiringi alunan gamelan yang halus terdengar senantiasa mewarnai denting kehidupan dan memberi garis-garis unik pada wajah kota bersejarah ini.
Laju andong dan kusir yang tengelam dalam nuansa batik coklat serta derap kaki kuda berirama tiga per empat sepanjang jalanan Malioboro, juga kian merekatkan julukan kota budaya di dada penguhuni kota ini.
Tidak lupa pula setiap hari, ketika sinar matahari mulai merembes memasuki garis horizontal dunia, memberi terang pada lajur kehidupan, barisan berseragam serta tampilan apa adanya ala mahasiswa yang tak terhitung banyaknya pun mulai bergulir di antara gedung sekolah atau kampus tercinta. Fenomena ini pun semakin mengokohkan kota ini sebagai kota bagi pelajar di Indonesia.
Kota yang tak pernah tua, itulah
YOGYAKARTA…
Julukan Yogyakarta
Bagi semua orang yang pernah tinggal di Yogya, tiga buah julukan yang disandang kota ini , adalah hasil dari sari-sari permenungan yang dalam dan hasil dari sebuah penggalan hidup ketika berada di kota ini. Apalagi jika kota ini pernah menjadi pelabuhan singgah bagi sebuah kehidupan yang sedang berlayar mencari daratan berikutnya.

“Indonesia Kecil”, itu julukan lain yang juga pantas diberikan pada kota ini. Mungkin semua orang Indonesia yang berasal dari ribuan suku yang tersebar di seluruh jagad tanah air ini pernah datang dan menetap di kota ini Entah itu untuk sekolah, bekerja , atau bahkan hanya liburan. Mereka yang datang untuk jangka waktu yang cukup lama bisa disebut perantau, sebab pada dasarnya mereka bukan berasal dari situ dan kebanyakan dari mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing setelah purna tugas yang mereka jalani dan emban.

Dinamika Perantau
Bagi para perantau atau pendatang, susah-susah mudah jika ditanya aksi mereka dalam proses adaptasi dengan lingkungan di Yogya. Semua orang punya pengalamannya sendiri dan ceritanya sendiri. Mulai dari pengalaman pahit, manis dan konyol, pasti lengkap dalam perpustakaan pribadi tiap orang. Bagi para perantau atau pendatang memulai sebuah kehidupan baru di sebuah lingkungan baru, dengan tetangga baru dan budaya baru adalah sebuah proses membangun kepribadian. Datang dengan sifat, karateristik, perilaku dan pola hidup yang berbeda satu dengan lainnya adalah tantangan yang harus dihadapi setiap hari dan dimaknai sebagai proses pembelajaran yang membangun. Hal ini penting mengingat keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan yang heterogen; banyak budaya, agama, kepercayaan, prinsip, serta tingah laku yang hidup dalam sebuah mangkuk yang sama, jika tidak menemukan sebuah cara dan resep toleransi serta pengertian yang tinggi, maka gesekan-gesekan akan terjadi dan bukan tidak mungkin akan menjadi bom waktu, yang suatu waktu akan meledak, melululantahkan semua isi mangkuk.

"Ideologi" Perantau
Jadi bagi semua perantau dan pendatang harus ada yang prinsip atau “ideologi” sebagai pegangan dalam aturan “bermain”. Ideologi itu harus bersifat konstruktif dan membumi. Semuanya mempunyai hak dan waktu untuk membangun kesadaran diri, menumbuhkan rasa hormat dalam diri pada sesama dan lingkungan, menerima lingkungan baru dan setiap orang sebagai sebuah keluarga, menjauhkan diri dari sifat sovinisme,rasis, punya sikap toleransi yang tulus, terbuka, mau belajar dan tidak malu mengakui identitas pribadi dalam setiap tingkat pergaulan yang dimulai.

Jika hal ini terus dibangun dalam bingkai kesadaran dan etiket baik, maka Yogyakarta akan memberi rasa nyaman dan pasti membuat betah bagi penghuninya. Yogyakarta dengan budayanya sangat akomodatif dalam proses membangun sebuah komunitas yang berlandaskan pada komunikasi yang interaktif . Yogya dengan memberi banyak sumbangan terhadap keberadaan para pendatang atau perantau, sehingga banyak gesekan yang bisa dihindari akibat adanya sedikit salah paham diantara individu.

Orang NTT Harus Berani Mengembangkan Diri
Bagi para perantau khususnya mereka yang sedang bergulat dalam pendidikan, menghindari sikap dan cara yang tidak sopan dalam pergaulan harus menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pengembangan diri. Saling memperhatikan dan mengoreksi serta memberi semangat dalam lingkup yang lebih kecil (Paguyupan) harus menjadi tanggung jawab bersama dan terus berlangsung dengan komunikasi yang intens serta saling menghormati. Biasanya setiap daerah mempunyai dinamika yang berbeda antara satu dengan yang lain unutk hal yang satu ini. Ini sebuah poin penting yang harus digaris bawahi.

Bagi orang yang berasal dari suku lain atau berasal dari daerah Indonesia bagian barat, orang yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), dikenal keras, lugas, apa adanya, serta spontan, selain ciri-ciri fisik yang lebih “mendunia”, berkulit hitam, berambut kriting. Sifat dan karateristik seperti ini cukup bertolak belakang dengan budaya setempat. Ada sebuah garis yang membedakan, Sehingga kadang “teman-teman” dari NTT menemukan kesulitan di tahun-tahun awal mereka memulai hidup di Yogya.

Tetapi jika dilihat dari sudut lain, maka kedua budaya ini mempunyai keunikkannya sendiri sehingga dapat memperkaya dan saling melengkapi. Sulit jika budaya ini digabung menjadi satu, dan itu tidak perlu dilakukan. Kedua budaya ini hanya perlu diperkenalkan dan saling memperkenalkan diri dengan mengusung rasa saling menghormati satu dengan yang lainnya, penuh dengan keterbukaan dan tiap-tiap individu yang ada di dalamnya bertugas sebagai duta budaya bagi lainnya. Proses ini harus terjadi dalam pergaulan setiap hari, jika keinginan akan kedamaian serta keharmonisan ingin dicapai. Asimilasi yang terjadi dalam lingkungan pergaulan akan membangun sebuah pribadi yang fenomenal dan positif. Dua budaya ini akan melahirkan manusia-manusia yang dibutuhkan di masa depan.

Identitas dan Kebanggaan
Itulah segenggam “ideologi dan cara”, yang bisa dipakai sebagai bekal bagi para perantau dan pendatang yang telah dan akan tinggal di Yogyakarta “Berhati Nyaman”. Semoga kita, orang-orang NTT atau dalam bahasa gaulnya biasa menyebut sesama yang berasal dari "sana" dengan kata RAKAT dapat saling membangun dan meneguhkan sebagai sesama saudara, dan banggalah menjadi Putra-Putri NTT. Orang NTT harus mempunyai cara dan identitas yang bisa dikenali oleh sesama kita sebagai orang-orang positif dan dapat diandalkan dalam segala hal.

Menjadi perantau artinya menjadi tuan yang baik bagi diri sendiri di tanah “orang”.